Tag Archives: Arthur Guinness Fund

Studi Banding ke Inggris Untuk Para Pemenang

Kewirausahaan_Sosial_British_Council_Studi_Banding_1

Pada tanggal 7-11 Mei 2013, British Council menyelenggarakan studi banding mengunjungi sejumlah usaha sosial di London, Inggris. Peserta studi banding terdiri dari pemenang Community Entrepreneurs Challenge Wave III, Ibu E. Noor Suryanti dari Koperasi Pelangi Nusantara; penerima Special Mention CEC Wave III, Martin Kresna Anggara Asda dari CV Roas; dan fasilitator CEC Wave III, M. Bijaksana Junerosano dari Greeneration Indonesia.

Studi Banding ini diselenggarakan bersama dengan i-Genius, jejaring global yang terdiri dari 15,000 wirausahawan sosial dari seluruh dunia. Kunjungan tersebut diharapkan dapat menjadi ajang bertukar pikiran dan memperluas jejaring antara para wirausahawan sosial di Indonesia dengan di Inggris.

Beberapa usaha sosial yang dikunjungi pada kesempatan tersebut:

Hari Spesial untuk British Council

Education_UK_Exhibition

Setelah melalui persiapan yang panjang, tanggal 23 Maret kemarin menjadi hari istimewa untuk British Council karena dua acara besar yang ditunggu-tunggu akhirnya terselenggara dengan baik.

Di hari tersebut, Education UK Exhibition 2013 dan Awarding Day Community Entrepreneur Challenge (CEC) Wave III menjadi acara utama British Council dimana pengunjung disajikan dengan berbagai informasi seputar kuliah di Inggris dan kewirausahaan sosial.

Profil Pemenang AGF-BC CEC Wave III: Komunitas Kapuk

Komunitas-Kapuk-3

Mungkinkah situasi rawan banjir di Jakarta menjadi sumber keberuntungan? Sebuah komunitas di daerah utara Jakarta mencoba mengambil manfaat dari masalah banjir, yang kini tidak hanya telah menjadi sumber penghasilan, tapi juga dapat membersihkan lingkungan.

Inspirasinya berasal dari Desa Apung, dimana kelebihan air saat banjir digunakan untuk beternak lele. Komunitas Kapuk di desa Penjaringan menggunakan pemikiran yang sama, dengan membangun koperasi untuk mengelola peternakan lele bersama dengan sebuah program daur ulang sampah.

Profil Pemenang AGF-BC Wave III: Brenjonk

Brejonk-2

Pada tahun 90-an, pemerintah lokal di desa Penanggungan, Mojokerto, membangun sebuah koperasi. Namun tanpa aktivitas perkenalan dan kurangnya keterlibatan warga lokal, inisiatif tersebut tidak dapat berlanjut. Akhirnya di tahun 2002, beberapa warga desa mencoba mengambil pendekatan lokal, dan membangun Brenjonk, sebuah organisasi berbasis komunitas (OBK). Mengawali usahanya dengan menjual beras organik, pada tahun 2007, Brenjonk mulai menjual sayuran, buah-buahan dan rempah organik.

Profil Pemenang AGF-BC Wave III: Koperasi Wanalestari Menoreh

Koperasi-Wanalestari-Menoreh-1

Desa Menoreh sudah melakukan penebangan kayu seluas 17,000 hektar sejak tahun 1980, tetapi bekerja secara perseorangan menyebabkan mereka mengalami ketergantungan dengan para tengkulak sehingga investasi kembali kepada lahan menjadi minim. Beberapa orang mulai memikirkan untuk merubah hal ini dan menjadikan komunitas yang ada menjadi lebih terorganisir. Berkat pertolongan beberapa LSM, Koperasi Wana Lestari Menoreh lahir pada tahun 2007.

Profil Pemenang AGF-BC CEC Wave III: Koperasi Tani Wanita Sedya Mulya

Koperasi Wanita Tani Sedya Mulya-1

Sudah tak banyak lagi yang bisa dilakukan di desa Kemediang, makin banyak warga desa yang pergi ke kota-kota untuk mencari kerja.
Baik untuk bekerja secara permanen ataupun diantara masa tanam. Untuk merespon terhadap kondisi ini, di tahun 1985 sejumlah wanita di desa membentuk beberapa kelompok non-formal untuk membantu satu sama lainnya.

Profil Pemenang AGF-BC CEC Wave III: Koperasi Serba Usaha Nira Satria

KSU-Nira-Satria-3

Produksi gula kelapa telah menjadi sumber penghasilan utama bagi komunitas Banyumas selama bertahun-tahun, namun masyarakat menjadi sangat tergantung pada pabrik-pabrik besar sebagai pembeli. Karena kurangnya popularitas dari gula kelapa, masyarakat juga tidak banyak menerima dukungan dari pemerintah.

Komunitas Penerima Dana Hibah di CEC Wave 3

Kompetisi Community Entreprise Challenge Wave 3 sudah memasuki tahap-tahap akhir. Kami bangga untuk mengumumkan bahwa komunitas-komunitas berikut akan menerima hibah dari Arthur Guinness Fund dengan total dana mencapai Rp. 600 juta rupiah:

Community Entrepreneur Challenge Wave III

Tak hanya dana hibah yang diterima, tapi juga ada dua komunitas pemenang yang akan berangkat ke London pada bulan Maret 2013, yaitu Komunitas Pelangi Nusantara dan Kelompok Hutan Lestari Menoreh, untuk bertemu langsung dengan pakar dan praktisi kewirausahaan sosial di Inggris.

Selain itu, dengan kegigihannya dalam mengembangkan wilayah Indonesia bagian Timur dan mendorong keberdayaan perempuan di komunitasnya, Dewan Juri CEC wave III juga menganugerahi CV Roas Mitra dari Ternate penghargaan Special Mention, di mana satu perwakilan CV Roas Mitra juga akan ikut dalam studi banding ke UK.

Selamat untuk seluruh komunitas yang terpilih!

Menghubungkan CSR dengan Kewirausahaan Sosial

kewirausahaan sosial

Corporate Social Responsibility bukanlah kegiatan amal untuk memanjakan masyarakat penerima bantuan. CSR justru bisa menjadi program pemberdayaan yang berkelanjutan melalui kewirausahaan sosial.

Tanggal 7 December 2012 yang lalu, British Council bersama Universitas Trisakti mengadakan diskusi panel bertajuk Linking CSR with Social Entrepreneurship bertempat di hotel Mandarin, Jakarta.

Dalam diskusi ini, dibahas tentang kewirausahaan sosial dan bagaimana social entrepreneurship bisa menjadi bagian yang akan lebih mengoptimalkan program CSR.

Selamat Pada Finalis Community Enterprise Competition Wave 3

Para Finalis akan kami undang ke Jakarta untuk mendapatkan pelatihan dari British Council mengenai Kewirausahaan Sosial berbasis Komunitas pada tanggal 28 Oktober – 1 November 2012.

Kami akan menghubungi para Finalis via telephone dan email untuk informasi lebih lanjut.

Siapakah yang jadi finalisnya? Silakan download Pengumuman Finalis Community Enterprise Competition untuk mengetahuinya.