Berkembang Bersama Fashion Bootcamp

“It’s no longer about desire, but intensity of desire,” ucap Toby Meadows di dalam presentasi Fashion Bootcamp 31 Mei 2012 lalu.

Fashion Bootcamp ini salah satu bagian dari Fashion Development Program. Sebelumnya di tempat yang sama pada tanggal 29 – 30 Mei 2012 telah diadakan Fashion Pioneer Program yang diikuti 8 desainer muda Indonesia. Rangkaian acara ini pun merupakan bagian dari perhelatan besar Jakarta Fashion Week 2013.

Pada pukul 9 pagi Balairung Soesilo Soedarman mulai dipenuhi para peserta Fashion Bootcamp. Sambil menunggu, mereka menikmati hidangan coffee break yang sudah disiapkan oleh team Femina. Tepat di pukul 10, area workshop dibuka dan satu persatu peserta memasuki ruangan. Banyak peserta dari lini fashion yang baru mulai berkembang, seperti moozee bags, Toton, desainer terkenal seperti Tex Saverio, para desainer yang terlibat dalam Fashion Pioneer Programme sampai dengan perusahan yang sudah mapan seperti Gold Mart dan beberapa peserta yang bergerak di bidang retail.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ibu Poppy Savitri selaku Direktur Desain & Arsitektur dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kemudian dilanjutkan oleh Ibu Svida Alisjahbana sebagai CEO dari Femina Group.

Selepas pembukaan oleh Ibu Poppy Savitri dan Ibu Svida Alisjahbana, Toby Meadows mengambil alih acara. Agar suasana tidak kaku, Toby meminta para peserta untuk berkenalan dengan peserta lain yang duduk di meja yang berbeda. Sesaat suasana menjadi sedikit riuh karena semua peserta mulai beranjak dari kursinya dan berkenalan dengan peserta lain. Bahkan para pembicara Fashion Bootcamp pun ikut serta, Angela Quaintrell jalan – jalan berkenalan dengan peserta dari meja lain.

Kemudian acara dilanjutkan oleh Toby Meadows, beliau menjelaskan mengenai peran sebagai penantang di blantika dunia fashion yang sudah lebih dulu diisi oleh brand besar dan retailer besar serta pemahaman lebih mendalam sampai tips dan trik yang bisa dilakukan oleh para penantang pasar ini.

“Being a challenger, being underdog could be so much cooler,” menurut Toby Meadows, yang nampaknya mampu membangkitkan semangat para peserta.

Acara diselingi oleh break selama 15 menit, kemudian dilanjutkan oleh Wendy Malem yang menjelaskan mengenai CFE ( Centre for Fashion Enterprise ) dan para desainer jebolan CFE.

Setelah break makan siang, Angela Quaintrell ditemani oleh Toby Meadows menceritakan pengalamannya selama 30 tahun sebagai retailer. Mata jeli beliau lah yang berjasa menemukan di antaranya koleksi Alexander McQueen, Dries Van Notten, dan Junya Watanabe.

“I have to buy it,” kata Angela saat pertama kali melihat koleksi Dries Van Notten. “He designed this pale green linen jacket, embroidered, probably inspired byIndonesia.”

Angela menuturkan, yang dicari oleh semua buyer adalah adanya alasan untuk membeli. Itu berarti barang tersebut memiliki sesuatu yang spesial dan perbedaan yang signifikan. Jika memiliki kedua hal itu, bisa dipastikan barang tersebut akan terjual dengan sendirinya.

Angela pun berpesan agar setiap desainer memiliki buku desain, contoh bahan, cara pemesanan serta syarat dan ketentuan yang terangkum dalam satu buku yang mudah dibawa dan praktis dilihat oleh buyer.

Diskusi dilanjutkan dengan teknik pricing dan mark up.Parapeserta menyimak dengan sangat serius di bagian ini. Begitu menariknya, hingga banyak peserta yang bertanya.

“Don’t undervalue yourself. Once you stop believing, your customers will stop buying,” pesan Toby Meadows & Angela Quaintrell di akhir diskusi.

Sebelum dilanjutkan oleh Sanjeev Davidson, peserta dipersilahkan untuk menikmati coffee break. Namun di sela – sela itu satu per satu peserta mendatangi Toby, Wendy, Angela, dan Sanjeev untuk diskusi. Tak merasa terganggu, mereka dengan senang hati menjawab pertanyaan – pertanyaan itu.

Sanjeev Davidson melanjutkan untuk memberikan presentasi mengenai brand. Sanjeev, yang memang gemar memberi tantangan dalam cara berpikir yang konservatif berulang kali memberikan pertanyaan yang kerap kali membuat peserta berpikir lebih kreatif.

Kemudian acara sampai di sesi tanya jawab terakhir. Ada pertanyaan menarik dari Dian Pelangi dkk, yaitu mengenai tiru meniru karya atau pembajakan. Singkat cerita, para ahli fashion ini mengatakan untuk tidak perlu takut akan hal tersebut, hal tersebut lumrah terjadi dimana – mana. Kita ‘hanya’ perlu terus melahirkan inovasi baru.

“Just build a stronger brand that people will follow,” pesan mereka di penghujung acara.

Acara pun berakhir. Semua peserta nampak senang. Salah satu peserta Fashion Pioneer Programme, Dian Pelangi, mengaku sangat bersyukur dengan adanya acara ini, yang mampu memberi edukasi yang sangat dibutuhkan oleh para desainer dan juga para pengrajin sehingga bisa lebih siap terjun dalam pasar global.

Sampai bertemu di Jakarta Fashion Week 2013!