Asia-Europe Field Learning and Networking Event Day #2
21 Mei 2012.
Pagi hari pukul 08.30 setelah menikmati sarapan di The Park Royal Hotel, Yangon, saya bersama delegasi dari Indonesia berangkat bersama menuju British Club yang berjarak sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki. Satu hal yang selalu saya ingat bahwa jalanan Jakarta masih sedikit lebih ramah terhadap pejalan kaki yang mau menyebrang, dibandingkan dengan jalanan di Yangon.
Agenda utama pada hari ini adalah mengunjungi dua buah social enterprise di Myanmar dari pagi hingga sore, dan pada malam harinya ada acara Networking and Social Enterprise Gallery yang merupakan wahana untuk berjejaring dengan beberapa pemimpin dari NGO serta komunitas bisnis di Myanmar.
Setibanya di British Club, setelah menikmati kopi hangat serta mengobrol dengan beberapa peserta dari negara lain, kami pun naik bis bersama untuk bersiap menuju FXB Myanmar, sebuah social enterprise yang membantu warga yang terjangkit penyakit HIV/AIDS serta human trafficking. http://www.fxb.org/programs/myanmar/.
Setibanya di lokasi workshop FXB, kami pun langsung diberi pemaparan tentang aktivitas yang mereka kerjakan serta berbagai produk yang dihasilkan. Aktivitas utama yang diberikan FXB adalah memberikan pelatihan berbagai keterampilan kepada warga binaannya sesuai dengan kemampuan dan minat warga binaan tersebut. Keterampikan yang ada antara lain menenun, membuat lilin, kerajinan berbahan logam, serta pengolahan kain seperti membuat mainan dan boneka.
Di workshop ini, selain terdapat lokasi untuk bekerja, juga terdapat kelas untuk belajar bagi anak-anak secara non formal yang dilengkapi dengan perpustakaan. Kunjungan ini tidak hanya berhenti di lokasi workshop, tetapi kemudian kami diajak untuk menuju toko yang menjual hasil karya warga binaan FXB ini. Umumnya pembeli produk dari FXB adalah wisatawan maupun perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra FXB.
Setelah menikmati makan siang dengan menu makanan tradisional Myanmar, rombongan peserta workshop kemudian menuju ke lokasi kedua yakni Proximity. http://www.proximitydesigns.org/home.html
Kunjungan ke social enterprise yang kedua ini membuat saya takjub karena perusahaan ini dimotori oleh orang-orang muda asing non Myanmar dari Jerman, Amerika Serikat serta negara-negara lain.
Proximity Designs adalah usaha nirlaba di Myanmar yang telah merancang, membuat dan mendistribusikan produk dan layanan bagi keluarga pedesaan sejak tahun 2004. Beberapa produk yang dihasilkan antara lain pompa serta wadah penampung air. Pompa air ini didesain sangat sederhana, digerakkan secara manual sehingga tidak memerlukan listrik, dan berharga sangat murah yakni 15.000 Kyats atau sekitar Rp. 140.000 rupiah. Pompa ini sangat berguna bagi para petani di Myanmar yang sama sekali tidak dapat menaman pada musim kemarau. Pompa ini sangat mudah digunakan dan yang lebih penting adalah tidak memerlukan listrik yang merupakan masalah utama di Myanmar (kelangkaan listrik).
Selain agenda pemaparan aktivitas proximity, kami pun diajak berkeliling pabrik lokasi pembuatan produk-produk dari Proximity.
Tertarik dengan keunggulan pompa manual ini, serta dorongan kebutuhan pompa air untuk proyek Agroforestry yang saya laksanakan di Garut, saya pun membeli pompa ini langsung pada saat itu juga. Kesalutan saya pada aktivitas Proximity adalah kesungguhan mereka dalam membantu para petani di Myanmar guna meningkatkan kesejahteraan para petani. Saya sangat berharap para sarjana muda di Indonesia dapat mencontoh aktivitas “gila” mereka, yang menerapkan ilmu yang mereka miliki untuk membantu para petani di Indonesia atau kelompok masyarakat lainnya yang memerlukan bantuan.
Selesai menjalani satu hari perjalanan yang melelahkan khususnya karena suhu udara yang panas, pada sore hari rombongan pun diantar menuju hotel untuk sejenak istirahat dan bersiap untuk acara pameran pada malam harinya.
Sekitar pukul 19.00 kami semua berkumpul di Strand Hotel untuk mengikuti Social Enterprise Networking Event. Pada acara ini terdapat galeri dari aktivitas social enterprise semua peserta sehingga semua peserta dapat berbagi pengalamannya masing-masing secara lebih detail. Saya pun sangat senang ketika melihat galeri aktitas proyek Agroforestry yang saya jalankan di Garut. Cukup banyak pertanyaan yang diajukan oleh beberapa peserta lain serta beberapa NGO lokal dari Myanmar atas proyek Agroforestry yang saya lakukan.
Selepas acara galeri, perhatian seluruh hadirin kemudian berfokus ke podium utama dengan agenda Welcome Speech from British Council Director Alan Smart, yang dilanjutkan dengan pidato dari Prof. Dr. Aung Tun Thet (Senior Advisor, UN) yang bertajuk “Social Enterprise in Myanmar: Challenges and Opportunities”, kemudian Soledad Pons Caruso dari The Hub yang menyajikan paparan mengenai “Doing Social Enterprise in transition” serta Sol Iglesias dari Asia-Europa Foundation.
























